Selasa, 04 Agustus 2009

Selasa, 12 Mei 2009

Alhamdulillah

Siang ini camikuw telepon, dia ngajakin cari sesuatu demi masa depan gw + dia = Kita... Setelah muter-muter dari jaman jebodhh dan bolak-balik akhirnya kita berdua memantapkan hati dan melangkah "Bismillah" yang itu ajah n nggak melirik yang lain lagi. Alhamdulillah gw sama dia cuman tinggal ngelengkapin syarat-syarat ajah dan semoga ajah semuanya lancarr.... Amin... (itu yang gw sama dia harepin...) Oghhhh capeee bangettt hari niy... Biarpun ujan-ujanan karena raincoat gw ketinggalan, tapi ada sesuatu yang menghasilkan rasanya seneneengg ajah.. Berarti ujian kita berdua nambah lagi nihh. Sekarang tinggal gimana kita bisa menata pengeluaran... (hahahaha... Itu yang susahhh... Masih pengen shopiiingg nihh... masih pengen jalan-jalan dan masih pengen kuliner makanann,,,, ) Sebenernya sama camikuw nggak dilarang yaa tapi gw kudu tau diri kaliii klo udah jadi pasutri nih pos-pos yang ini natanya kudu hematt.. Hihihihihi...Klo nggak wahhh dapur bisa nggak ngebulll... Waduwww....

Setelah muter-muter, gw langsung makan pecel lele yang di Mega M, deket underpass tempat Mercusuar dulu... Ehhmmm Ayamnya gede sambelnya pun uenakkk pedesss... Cocok lah sama lidah gw yang sukanya makanan pedes-pedesss... Hmmm... Udah makan, kita langsung OTW ke kantor dehhh buat rapat bengkel... Harusnya sih bukan jadwalnya gw, tapi fotografer... Nah, karena fotografernya sakit gw lah siap-siap jadi pemateri. Untungnya udah gw siapin bahan dari kemarenn klo nggak waaahhh bisa malu gw nggak ada materinya...

Nggak lama gw nyampe kantor, mahluk2 yang dateng di Lt. 4 baru beberapa orang. Gw kembali sibuk nyiapin bahan-bahan sambil chating sama temen-temen tersayang... Hahahaha... Teteppp sambil menyelam minum aer... Hahahaha.... Jam 5-an satu per satu dateng dan mulailah bengkel... Alhamdulillah... In fokus ma laptopnya nggak ada, jadi wehhh nggak jadii... Iiiihhh beruntung banget, karena memang nyiapin materinya cuman dikit dan dilanjut minggu depan... Satu kata yang gw ucap "Alhamdulillah... bisa nyiapin materi lebih baik sebelum gw keluarrr"

Satu yang pasti, hari ini gw mau bilang... "Ya Allah, terima kasih atas rezeki yang telah Engkau berikan kepada Camikuw dan berikanlah dia kesehatan supaya bisa bekerja keras untuk kehidupan kita... Terima kasih ya Allah...."


Love
NFA

Kamis, 07 Mei 2009

Menggetarkan Hati...


"Astaghfirullah 'aladziimmm. .." desisku perlahan, khawatir membangunkan suamiku. Ya Allah, ampuni aku... lagi-lagi aku memimpikan dia. Sudah 2 minggu ini wajah pria itu hadir terus dalam setiap mimpiku. Dan dadaku selalu berdebar-debar setiap kali bangun dari mimpuku. Adarasa rindu meluap dalam hatiku. Mataku seolah enggan terbuka dan ingin terus melanjutkan mimpiku, jika disaat aku terbangun aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku telah bersuami... Aggrrhh, aku benci dengan perasaan ini. Ku tatap wajah tenang suamiku yang masih dengan nyenyaknya tertidur pulas disampingku.

Maafkan aku, suamiku... Aku tidak tahu kenapa perasaan ini harus hadir dalam hatiku. Ia muncul tiba-tiba tanpa ijin dariku terlebih dahulu. Dan aku tidak bisa menghentikannya. Aku tak tahu mengapa??? Inikah namanya cinta??? Benarkah ini cinta??? Cinta tumbuh karena seringnya dua orang anak manusia bertemu dan saling berbagi kasih sayang. Sedangkan aku??? Bertemu pun tak pernah. Memang dia pernah menjadi bagian masa laluku, tapi itu hanya sekedar teman sekolahku ketika kami sama-sama duduk di bangku SMA. Itu pun aku jarang menemuinya. Just say hello kata orang, karena jarangnya aku bertemu dia.

Sekarang pun disaat aku memiliki kehidupanku sendiri, begitu juga dia, tak pernah sekalipun aku menemuinya. Kami hanya bertemu dalam satu wadah yang bernama milis. Aneh bukan jika aku bilang aku mencintainya, hanya karena aku tertarik dengan kata demi kata yang ia tulis dalam milis?? Kata-kata yang bukan tertuju untukku, tapi untuk semua anggota milis. Lalu kenapa wajahnya sering hadir dalam setiap mimpiku, dan kenapa aku harus merasakan perasaan ini untuknya???

Lagi-lagi ku tatap wajah innocent milik suamiku. Maafkan aku, suamiku... Walaupun ini hanya sekedar perasaan, tapi aku merasa berdosa. Aku merasa telah menghianatimu. Aku seolah tidak bersyukur menerimamu sebagai suami. Padahal selama ini kamu begitu sayang terhadapku. Begitu perhatian dan lembut kepadaku. Bahkan kamu pun telah memberikanku 2 orang wajah mungil hasil ikatan cinta kita. Tapi perasaan ini hadir tiba-tiba bukan atas kehendakku. Hhuh... kenapa harus aku yang mengalaminya, ya Allah??? kenapa harus aku???

Kutarik kembali selimutku.Ku pejamkan mataku dan mencoba melupakan wajah itu, lalu kubaca doa,"Bismika Allahumma ahya wa bismika amut"...

2 hari kemudian

Seperti biasa, aku duduk di meja kerjaku, ku nyalakan komputerku dan kuaktifkan messenger-ku.Namun pagi ini aku dikejutkan dengan pesan di messenger-ku Radia_prasetya would like to add you to his or her messenger list as shifa_adinda... Dia??? nge-add aku di messenger??? Adaangin apa nih???

Jantungku berdebar kencang. Nama itu... nama pria yang hadir dalam mimpiku. Tanganku bergetar. Aku allow ga ya??? Dipundak kananku tiba-tiba muncul sosok diriku dalam ukuran mini, berjilbab dan gamis putih. Dipunggungnya ada sayap malaikat dan di kepalanya ada lingkaran putih berkata dengan lembut,"Fa, ingat kamu kansudah punya suami dan 2 orang anak".

"Udah cuek aja... kanini hanya lewat messenger. Nggak pa pa kok asal jangan ketemuan aja.." ucap diriku lainnya yang berukuran sama dengan diriku dipundak sebelah kanan. Namun kini diriku hadir di sebelah kiri, menggunakan jilbab dan jubahmerah serta bando bertanduk. Ia duduk santai sambil mengayun-ayunkan kaki dan mengikir kukunya.

"Tetap saja itu zinah..." ucap diriku yang berbaju putih.

"Loh... kanbelum ada pembicaraan yang menuju kesana. Baru nge-add doang... Lagipula jika nanti ada pembicaraan yang aneh-aneh, cuekin aja.." dengan santainya diriku baju merah berucap. Benar juga ya, kenapa harus takut??? toh aku cuma nge-add saja. Lagipula tak seorang pun yang tahu tentang perasaan ini. Semua ini cukup aku simpan rapih dalam hatiku.

"Urrggghhhh. .. terserah kamu.. Aku sudah mencoba mengingatkanmu" tampaknya si baju putih kesal dengan sikap yang aku ambil, yaitu meng-click tombol yes. ia pun menghilang. Si baju merah tertawa senang dan mencium pipiku sebelum pergi.

2 minggu kemudian

Chating
lancar. Ngobrol dengan Dia menyenangkan. Pemikirannya selalu sama denganku. Kata-katanya menyejukkan hatiku. Bahasanya romantis. Perhatian. Wah... Indah banget. Kami bicara hanya seputar komputer, agama dan kerjaan. Tak lebih dari itu. Jadi, tugasku sebagai istri dan ibu pun juga lancar. Karena tidak satu pun perbincangan kami yang menjurus ke hati. Namun sejak aku chating dengan Dia, wajahnya tak pernah lagi muncul dalam mimpiku.

1 bulan kemudian

Lantunan merdu suara opick dengan lagunya cahaya hati
,tanda hp-ku berdering. Aku lihat nama yang tertera di hp-ku. Rumah??
"Haloassalamu'alaikum.." sapa suara diseberang.
"Wa'alaikumussalam. .. ada apa, mba???" aku kenal betul suara diseberang adalah suara pembantuku.
"Umi... anu.... ini, mi..." ucap-nya terbata-bata, seperti ada yang enggan dia sampaikan.
"Kak, cepat pulang !!" tiba-tiba suara diseberang berubah menjadi suara adikku, Salma. Adaapa ya??? kok tumben Salma ada dirumah. Nada bicaranya pun memaksa sekali.
"Adaapa sih???"
"Pokoknya kakak pulang saja dulu !!"
"Kok maksa gitu... emang ada apa sih??? Kakak kansedang kerja"
"Bang Rangga kecelakaan waktu mengantar Alif dan Nabila"Ya Allah.... Jantungku berhenti berdetak. Badanku bergetar mendengar kabar tersebut.
"Trus.. kondisi bang Rangga gimana???"
"Udah deh, nanti aja ceritanya... Pokoknya kakak pulang saja dulu!!"
Aku Heran. Seperti ada yang disembunyikan.. Setelah kumatikan hp-ku dan mendapat ijin dari atasanku, akhirnya aku pulang.

Di dalam taxi

aku kembali menelepon ke rumah."Halo,assalamu'alaikum.." ucap suara di seberang. Ibu??? Aku cek lagi nama yang tertera dalam hp-ku. Tidak ada yang salah. Aku menelepon ke rumahku, tapi kenapa ibu yang angkat??
"Loh ibu ada di rumah??? Adaapa sih, bu??? Tadi Salma telepon aku maksa untuk pulang dan ibu kok sepagi ini ada dirumah aku???"
"Soalnya tadi pagi ibu dapat kabar dari mba atun tentang suamimu, makanya ibu kemari" ujar ibu lembut, tapi suara ibu terdengar agak serak.
"Gimana kondisi bang Rangga, bu??" tanyaku berusaha untuk tenang.
"Hmmm... Shifa nanti sambung lagi ya... Ibu mau bantu Salma dulu" ucap ibu seperti menghindar.

Ku tutup hp-ku.. Ini diluar dari biasanya. Bang Rangga bukan sekali mengalami kecelakaan. Makanya aku masih agak sedikit tenang. Karena dia memang hobi sekali mengendarai motornya dengan kecepatan 80 - 100 km/jam. Dia memang selalu pergi kerja dengan menggunakan motor. Karena memang baru itu yang bisa kami miliki sebagai alat transportasi kami. Aku biasanya diturunkan di terminal untuk selanjutnya aku naik kendaraan umum, sementara Bang Rangga mengantar Alif dan Nabila ke sekolahnya yang kebetulan satu arah dengan tempat bang Rangga kerja. Tapi jika ia mengalami kecelakaan dia yang langsung menelepon aku, bukan orang lain.

Setibanya dirumah, aku melihat banyak orang datang ke rumahku. Tiba-tiba jantungku mendadak berhenti saat aku melihat bendera kuning berkibar di pagar rumahku. Bang Rangga??? Aku langsung berlari ke dalam rumah mencoba mecari jawaban kegelisahanku. Namun tubuhku tertahan oleh Salma yang memelukku sambil menangis.

"Sabar ya, Kak... maafkan Salma tadi tidak langsung memberitahumu. Salma takut kakak tidak kuat menerima berita dari Salma" ujar salma Aku masih terdiam. Lidahku kelu. Perasaan di hatiku makin tak karuan. Airmataku perlahan mengalir dipipiku. Aku semakin yakin bendera kuning itu memang untuk bang Rannga.

Aku tak bisa lagi berlari karena banyak orang berkerumun di dalam ruang tamuku. Namun perlahan mereka bergeser memberiku jalan. Kakiku lemas saat aku melihat di depanku kain kafan menutup tubuh suamiku. Dengan bantuan Salma aku berjalan perlahan ke tengah-tengah kerumunan tadi. Aku makin kaget saat aku melihat 2 tubuh lain yang tertutup kain kafan. Aku menoleh ke arah Salma dan bertanya,"Ini Bang Rangga???" Salma mengangguk menjawab pertanyaanku, "Lalu ini siapa???" tanyaku kembali sambil menunjuk 2 tubuh yang mengapit tubuh bang Rangga.

"Alif dan Nabila" jawab Salma diantara isak tangisnya. Seketika itu juga pandanganku gelap. Kakiku tak sanggup lagi menopang tubuhku. Terakhir aku dengar orang-orang berteriak menyebut nama Allah saat tubuhku terjatuh.

Keesokan harinya

Di atas hamparan sejadah.. Di keheningan malam aku mengadu, "Ya Allah, begitu besarkan dosaku hingga Kau ambil suami dan anak-anakku hanya karena aku memikirkan pria lain selain suamiku??? Begitu besarkah salahku hanya karena aku menuruti nafsuku meng-add pria yang ada dalam mimpiku kedalam messengger-ku? ? Sebegitu mahal kah harga dosa yang telah aku perbuat???

Aku tak tahu apa rencana yang telah Engkau buat untukku dengan semua kejadian ini.. Yang pasti hatiku sakit, hatiku tersiksa, hatiku sedih... Aku bahkan belum sempat meminta maaf kepada suamiku atas dosaku terhadapnya, tapi Kau telah merebutnya dariku... Ini tidak Adil... Mengapa harus mereka yang kau ambil nyawanya??? Mengapa bukan aku??? Aku yang telah melakukan kesalahan itu, ya Robb.... AKU... Aku yang telah melakukannya. . Tak ada maksud hatiku mencelakakan mereka... Mimpi dan perasaan itu datang tanpa ku undang... Maafkan aku, bang Rangga... Maafkan umi, Alif dan Nabila... Tolong sampaikan maafku kepada mereka, ya Allah... Beritahu mereka bahwa aku mencintai mereka... Aku sangat mencintai mereka... Ampuni dosaku, ya Allah... ampuni aku.... Ampuni kesalahanku ya Allah.....

6 bulan kemudian

Kini aku hidup sendiri. Statusku bukan lagi sebagai ibu dan istri, tapi janda. Status yang harus aku jaga baik-baik di lingkungan masyarakat sekitarku.. Aku tidak lagi tinggal di rumahku, rumah yang aku beli bersama bang Rangga. Sampai saat ini aku masih belum sanggup melupakan kenangan yang terjadi di dalam rumah tersebut. Aku tinggal di rumah orangtuaku. Yang aku bawa dari rumahku hanya tempat tidur, karena aku merasa aku masih tidur bersama bang Rangga dan anak-anakku jika aku tidur diatasnya.

Aku mencoba mencari kesibukkan agar aku tidak terlena dengan kesedihanku. Pagi seperti biasa aku bekerja, sepulang kerja aku ke kampus untuk kuliah. Ya.. aku kuliah lagi. Uang warisan dari bang Rangga ku gunakan untuk mengambil S2, agar aku lebih fokus dengan hidupku. Jika aku tidak kuliah aku manfaatkan ke tempat fitnes. Sehingga saat aku tiba di rumah aku bisa tertidur dengan nyenyaknya. Dikala ada waktu senggang aku manfaatkan dengan menulis blog tentang kisah-kisah hidupku. aku tidak mau sedikit pun melewatkan waktuku hanya untuk melamun. Karena jika aku punya waktu melamun, bayangan bang Rangga dan anak-anakku pasti hadir dipelupuk mataku.

Hari sudah malam.... aku masih belum bisa tidur. Ku ambil laptopku dan kuaktifkan messenger-ku. Semua wajah smiley di messengerku tampak tertidur, itu berarti mereka tidak aktif. Hanya beberapa yang tersenyum. "Paling temanku yang dari luar negeri.." ucapku dalam hati. Aku memang hanya mengaktifkan messenger-ku dimalam hari, Disaat semua teman-temanku yang di Indonesiapulang dari kerjanya.

Tapi tiba-tiba mataku terhenti pada sebuah smiley yang tersenyum. Namun aku tidak tersenyum. Karena nama itu yang membuat aku masih punya hutang maaf kepada suami dan anak-anakku. aku aktifkan status invisible, khusus buat dia.

Buzz


Ah, ternyata aku telat. Sepertinya Dia terlanjur melihat messenger-ku aktif.
Fa... Masih sedih ya?? Kesedihan itu jangan disimpan sendiri, ga ada salahnya untuk berbagi... Aku siap kok menerima keluhan hatimu
. Tulisnya dalam box messenger-nya. Aku hanya tersenyum datar membaca tulisannya. Aku ingin, tapi tidak denganmu. Aku terlanjur benci denganmu.

4 Bulan kemudian

Aku melirik jam tanganku. Jam menunjukkan pukul 10 malam. Jalanan sudah mulai tampak sepi. Bis menuju rumahku sudah mulai jarang aku lihat, bahkan tidak ada. Semua temanku sudah pulang. "Waduh aku pulang sama siapa ya???" desisku dalam hati. Malam itu memang ada acara di kampusku. Aku kembali melihat ke parkiran kampusku, berharap ada seseorang yang aku kenal bisa aku ajak pulang bareng. Tapi semua tinggal harapan. Parkiran sudah sepi. Hanya tinggal 1 mobil toyotayaris biru, entah milik siapa. Aku tidak kenal.

Hmm... takdirku memang harus menunggu bis. Tiba-tiba aku melihat seseorang datang menghampiriku. Ya Allah... Dia. aku berusaha menjaga ekspresi wajahku, agar tak terlihat terkejut melihat kedatangannya.
"Ngapain kamu kesini???" tanyaku dengan ketus.
"Nunggu kamu. Aku nunggu kamu sejak bada' magrib" jawabnya dengan lembut..
"Memangnya aku minta???" lagi-lagi aku jawab dengan ketus.
"Nggak ada. Aku yang mau sendiri" Masih dengan lembut dan sabar menjawab pertanyaanku.
"Yuk pulang... Aku antar deh" ajaknya seolah tidak peduli dengan keketusanku.
"Kalau aku tidak mau" jawabku datar.
"Sudah jam 11, tidak baik kalau perempuan pulang sendiri naik kendaraan umum.. Sekarang Jakarta rawan loh.."
"Aku nggak mempan ditakut-takutin. .. Aku sudah biasa kok" jawabku. Padahal sejujurnya aku memang takut pulang sendirian malam-malam begini.
"Loh, siapa yang nakut-nakutin. .. Memang benar kok.... ya sudah, kalau kamu tidak mau aku antar... Aku tidak mau memaksa ..." Ia berjalan perlahan menuju ke satu-satunya mobil yang terpakir di lapangan parkir kampusku.
"Oh ternyata itu miliknya..." desisku dalam hati.

1 jam kemudian

Bis tujuan rumahku tak kunjung datang. Kakiku terasa pegal. Malam makin larut. Jalanan makin sepi. Heran, disaat aku butuh tak satu pun bis yang lewat, bahkan taxi kosong pun enggan untuk lewat di depanku.

"Aduh aku pulang naik apa ya???" keluhku pelan. Aku menyesal menolak ajakan dia. Aku lirik lapangan parkir kampusku. Ya Allah, mobilnya masih terpakir disana. Aku terdiam. Haruskah aku naik ke mobil pria yang telah membuat suami dan anak-anakku pergi??? Tapi mau sampai kapan aku harus berdiri disini???

Ku lihat jalanan sekali lagi, berharap ada bis tujuan rumahku lewat. Namun jawabannya tetap 'jalanan sepi'.

Bruummm...
Aku mendengar mesin mobil dinyalakan. Akhirnya dia pergi juga, berarti.... Aku makin sendirian disini???

"Tetap mau menunggu bismu???" tanya Dia dari dalam mobil yang tanpa ku ketahui kapan datangnya, sudah berada dihadapanku. Aku terdiam.. Tentunya bang Rannga tidak ingin melihat aku sendirian di tengah kotaseperti ini. Finally, ku turuti ajakannya untuk masuk kedalam mobilnya.

Sepanjang jalan aku lebih banyak diam. Dia pun ikut diam. Hening. Hanya suara deru mesin mobil yang terdengar.

"Aku kehilangan kamu sejak 10 bulan yang lalu. Kamu seolah hilang ditelan bumi. Tapi aku mengerti, saat aku baca tulisan-tulisanmu di blog. Aku tak pernah lepas semenit pun untuk selalu baca blogmu. Sejak saat itu aku merasa dekat denganmu. Aku bisa merasakan kesedihanmu. Karena aku pun pernah merasa kehilangan saat Allah memanggil kedua orangtuaku sekaligus" ucapnya memecah keheningan. Aku tetap diam, tapi aku tak lepas telingaku untuk merekam ucapannya.

"Kamu beruntung masih punya keluarga. Adaayahmu, ibumu, adikmu, iparmu dan 2 keponakanmu. Mereka masih menghibur hatimu. Sedangkan aku.... Aku sendirian. Kakak atau adik, aku tak punya... paman dan bibi semua jauh di seberang pulau sana. Istri... huh... kamu tahu kankalau aku masih sendiri???" ucapnya terus tanpa perduli aku membalasnya atau tidak.
Aku masih tetap diam.

"Tapi aku harus terus berdiri menjalani kehidupanku. . Kesedihanku cukup menjadi kenangan berarti dibagian hatiku."
"Aku bukan kamu" akhirnya kata-kata tersebut keluar dari mulutku untuknya. Dia menoleh kaget kearahku, seolah ada keajaiban terjadi saat mendengar aku bicara. Lalu ia tersenyum.
"Aku tahu... aku tidak memaksamu untuk menjadi diriku. Aku hanya sekedar bercerita tentang kisahku, sebagaimana kamu menceritakan dirimu di blog. Tak ada paksaan agar pembacamu menjadi dirimu kan???"
Aku kembali diam.

"Yang aku tidak mengerti sampai sekarang... Sejak tadi kamu seperti membenci diriku. Seolah jijik bertemu denganku. Apa benar dugaanku??? Jika benar apa salahku??" tanyanya seketika.
Aku tetap diam. Kali ini diamku karena bingung. Ya.. Apa salahnya??? Salahnya karena ia hadir dalam mimpiku. Tapi itu kanbukan kemauannya. Seperti halnya diriku yang tidak menginginkan hal itu terjadi.

Kami pun terdiam cukup lama. Hingga,"Kita sudah sampai di sekolah kita dulu, tapi aku belum pernah kerumahmu. Rumahmu pastinya tidak jauh dari sini kan???" ucapnya. Aku melihat keluar jendela. Rumah orangtuaku memang tak jauh dari SMA tempat aku dan dia menuntut ilmu dulu.

"Aku turun sini saja" ucapku. Aku tak mau Dia tahu rumahku.
"Loh??? Tidak... aku bukan laki-laki yang menurunkan wanita begitu saja dipinggir jalan", ujarnya sambil menekan tombol central lock pintu mobilny, berjaga-jaga agar aku tak keluar. Aku menghela nafas sebentar, lalu kutunjukkan jalan menuju rumahku.

Akhirnya tiba juga di depan rumah orangtuaku.
"Terima kasih ya... " ujarku berusaha mengembangkan senyumku walau berat rasanya.
"Fa..." panggilnya. Aku menahan tanganku untuk membuka pintu karena panggilannya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. ." ujarnya degan sorot mata yang tajam kearahku. Namun aku tertunduk, tak sanggup untuk membalas sorotan mata tersebut..
"Pertanyaan yang mana???" tanyaku berusaha mengingat kembali ucapan demi ucapan yang Dia keluarkan.
"Benar dugaanku bahwa kamu membenciku?? ?"
Kepalaku makin tertunduk.
"Suatu saat nanti kamu pasti akan menemukan jawabannya" ujarku sebagai kalimat penutup pertemuanku dengannya.

1 tahun kemudian

Sejak ia tahu tempat tinggalku, ia makin rajin datang kerumah orangtuaku. Gunung es dihatiku perlahan mencair. Kini aku bukan hanya bias berkomunikasi dengannya melalui e-mail atau messenger, tapi secara tatap muka. Kami makin akrab. Hingga di suatu malam. Di teras masjid Darrussalam puncak.
"Aku tidak bisa.."
"Kenapa, Fa???"
"Aku bukan wanita baik-baik seperti yang kamu bayangkan. Selain itu statusku adalah janda"
"Lalu apa salahnya dengan statusmu. Tidak ada larangan dalam agama untuk menikahi seorang janda kan, Fa???"
"Di, dengarkan aku ya... Kamu itu pria baik-baik dan kamu berha mendapatkan seorang gadis yang baik-baik pula, bukan seperti aku."
"Memang banyak gadis baik-baik diluar sana, tapi tidak ada satu pun yang mampu membuat hatiku jatuh cinta. Kamu tau kanaku sama sekali tidak pernah berpacaran dengan siapa pun di SMA dulu, tapi saat aku bertemu lagi denganmu aku merasakan sesuatu yang beda di hatiku. Tak ada satu pun kejanggalan yang membuatku harus menarik lamaranku"
"Ada.... Masa laluku"
"Boleh aku tau apa itu??? Masa lalu seperti apa yang membuatmu menolak lamaranku???"
"Kamu tau kenapa aku membencimu?? ?"
"Tidak.. Belum kutemukan jawaban itu"
"Aku pernah menghianati suamiku, karena memiliki perasaan indah terhadap seorang pria disaat suamiku masih hidup. Bahkan perasaan itu muncul 3 minggu sebelum ia meninggal. Pria itu selalu hadir dalam mimpi-mimpiku.. Kamu tidak tahu tentang itu kan???"
Dia terdiam.
"Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi... Aku tidak mau kamu mendapatkan penghianatanku jika kamu jadi suamiku. Dan tidak ada dalam pikiranku untuk menikah lagi. Carilah wanita baik-baik yang lain untuk kau lamar. Jangan aku..." air mataku mengalir deras saat ku ingat kembali kejadian 2 tahun yang lalu.
"Kamu tahu siapa pria itu???" ucapku ditengah isak tangisku.
Dia menggelengkan kepalanya.
"Pria itu adalah pria yang saat ini melamarku menjadi istrinya Itu sebabnya aku membencimu. Karena kamu, suamiku dan anak-anakku diambil kembali oleh Allah.." ucapku nyaris berbisik. Dia terdiam.. Tak ada ekspresi kaget terlihat diwajahnya. Ya ada hanya kepala yang tertunduk makin dalam.
"Aku tahu..."
"Maksudmu" tangisku terhenti sejenak mendengar ucapannya. Kali ini aku melihat airmatanya mengalir di pipinya.
"Aku bisa membaca semua itu dari tulisan-tulisan blog-mu. Aku pun juga pernah mempunyai perasaan indah terhadap istri oranglain. Bahkan sempat hatiku berharap suaminya meninggal agar aku bisa memilikinya. Aku tidak menyangka jika harapanku dikabulkan oleh Allah. Bahkan berlebihan hingga wanita yang aku cintai juga harus kehilangan anak-anaknya. Maafkan aku, Shifa... Aku telah mendoakan hal buruk terhadap suamimu. "
"Kamu...."
Aku benci Dia.... Aku makin benci Dia....

1 tahun kemudian

Aku duduk di depan cermin meja riasku. Ku tatap kembali bingkai foto yang berisi foto ceria aku, bang Rangga, Alif dan Nabila saat kamu berlibur di taman safari. Kembali kutatap wajah dalam cermin.

"Sudahlah, Kak... Kakak jangan menyalahkan diri kakak terus menerus atas kepergian bang Rangga, Alif dan Nabila. Umur kita itu memang sudah ditentukan oleh Allah. Dan Allah menentukan hari yang sama untuk mereka bertiga. Kita memang boleh bersedih, tapi jangan berlarut-larut seperti ini. Kasihan mereka, Kak.. Mereka haus akan doa Kak Shifa. Seharusnya kakak mendoakan mereka agar diberikan kehidupan yang bahagia di alam sana, bukan menangisi dan menyalahkan diri kakak sendiri.

Allah tentunya punya rencana indah dibalik semua kejadian yang kakak alami saat ini. Mungkin hadiah terindah, jika kakak mau lebih bersyukur kepada Allah, kakak diberikan seorang pria yang baik dan mencintai kakak dengan tulus seperti mas Rama. Kita semua ikhlas kok jika kakak mau menikah lagi. Bunda Rahma, mertua kakak, juga sudah meridhai. Apa yang kakak tunggu lagi??? Mungkin saja dengan pernikahan kakak yang kedua kalinya, Allah memberikan kesempatan kakak untuk memperbaiki diri kakak agar lebih berbakti dan setia dengan suami. Kami sekeluarga hanya bisa mendukung dan memberi masukan terhadap kak Shifa. Selebihnya kak Shifa lah yang menentukan kehidupan kakak. Sekali lagi kami tidak memaksa, kami hanya memberi masukkan terhadap kakak. Maaf jika kata-kata Salma kurang berkenan dihati kakak"

Nasehat Salma terngiang jelas ditelingaku. Keputusan jalan hidupku memang ada ditanganku. Ya Allah, Ridhailah langkahku !!

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Shifa Adinda binti Lukman Hakim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"

"Barakallah...."

(Thanks buat temen-temen yang sudah menjadi inspirasi ceritaku. My Allah blesses u) (*/berbagai sumber)

Emmmm....

Love
NFA

Tell Her Now That You Love Her

(Untuk yg sudah menikah dan akan menikah)
=======================================

Tell Her Now That You Love Her

Tit.. tiit … “I luv u” Setiap pagi aku menerima SMS bernada seperti itu. Atau terkadang berupa gambar yang melambangkan cinta. Bukan siapa-siapa, karena wanita yang rajin tak pernah absen mengirimiku ungkapan cinta itu tak lain adalah istriku sendiri. Kemarin kuberitahu dia bahwa tindakannya itu memalukan, untuk sebuah keluarga yang sudah memiliki dua anak, tidak usahlah ‘cinta-cinta-an’ seperti halnya orang pacaran atau pengantin baru. Tapi ia tidak menggubrisnya, bahkan ia semakin sering dengan menambah rutinitas itu pada setiap sorenya.

Enam setengah bulan lalu, malah dia melakukan satu seremoni yang bagiku hanyalah buang-buang uang saja dan tak selayaknya ia melakukan itu. Malam itu sesampainya aku di rumah, kudapati rumahku hanya diterangi oleh lampu yang remang-remang. Rupanya istriku mengganti lampu ruangan makan kami, agar terkesan lebih romantis, katanya. Sementara dua anakku sudah terlelap menikmati mimpinya, kulihat beberapa batang lilin menyala diatas meja makan yang diatasnya sudah tersedia hidangan penuh selera yang menjadi kesukaanku. Dengan gaun malamnya, ia terlihat begitu cantik. Aku baru ingat, hari itu adalah ulang tahun ketiga pernikahan kami.

Bahkan satu bulan sebelumnya, ia mengajakku keluar bersama anak-anak. Kami makan di sebuah restoran yang cukup bagus. Ia yang membayar semuanya, katanya. Pikirku, dari mana ia mendapatkan uang, toh ia tak bekerja. Akhirnya kuketahui itu uang yang ia sisihkan dari jatah bulanan yang kuberikan. Hanya saja bagiku, sekedar merayakan ulang tahunku tidak perlu repot-repot dan mahal seperti ini. Cukup dengan membeli makanan di pasar dan dimakan bersama-sama, selesai, yang penting kita bersyukur kepada-Nya bahwa kita masih diberikan kekuatan dan kesabaran dalam mengemban amanah-Nya sampai usia kita bertambah hari itu. Yang kuheran, malam sebelumnya tepat pukul 00.01 WIB ketika detik pertama pada tanggal kelahiranku, sebuah kecupan hangat mendarat di keningku. Kubuka perlahan mataku dan kudapatkan senyumannya yang manis. Malam itu ia menghadiahiku sebuah jam tangan yang didalam bungkus kadonya terdapat sebuah kartu ucapan bertuliskan: “Take My Heart In Your Arm”.

O ya, sekedar memberitahu, handphone yang kupakai sekarang ini adalah handphone hadiah darinya pada saat ulangtahun pernikahanku enam setengah bulan yang lalu itu. Aku sempat menolaknya, karena handphone-ku sebelumnya juga masih bagus. Dengan sedikit senyum ia menghulurkan sebungkus kado cantik itu. Didalamnya, kutemukan kembali sebuah kartu bertuliskan sebuah pesan (harap) singkat: “Keep In Touch, Please …”. Lucunya, aku lupa bertanya, bagaimana cara ia mendapatkan barang semahal itu. Ah mungkin karena aku sedang terkagum-kagum saja kepada istriku itu, yang membuat aku lupa.

SMS terakhir yang aku terima pagi ini, masih sama isinya. Namun entah kenapa hari ini aku menitikkan air mata. Kuperhatikan kembali rangkaian kata-kata dalam pesan itu, padahal setiap hari aku membacanya. I-L-U-V-U … kuperhatikan satu persatu huruf yang terangkai singkat itu, namun titik air dari mataku semakin bertambah. Aku jadi teringat dengan handphone hadiah darinya, teringat dengan makan malam istimewa nan romantis saat ulang tahun pernikahanku enam setengah bulan yang lalu, jam tangan hadiah darinya saat ulangtahunku, semua perhatian, cinta dan kasih sayangnya kepadaku. Ooh …

Tiba-tiba mataku menatap lingkaran merah di satu tanggal pada kalender mejaku. Disitu tertulis, “Ultah istriku”. Ya Allah … aku hampir saja melupakannya kalau besok adalah hari ulang tahunnya. Sementara hari sudah sore, aku bingung harus menyiapkan hadiah apa untuknya, padahal uangku sudah habis, tak mungkinlah jika aku meminta kepadanya untuk membeli hadiah untuknya, jelas nggak surprise. Akhirnya, aku nekat menelepon beberapa teman dan karibku, atau siapapun yang bisa kupinjam uangnya. Aku ingin memberinya sesuatu. Namun, apa daya, tak satupun dari mereka bisa meminjamkannya karena memang selain mendadak, bukan tanggal yang tepat bagi siapapun untuk meminjam uang di tanggal tua.

Aku lemas, hari sudah terlalu malam bagiku untuk mengetuk pintu orang kesekian untuk kupinjami uangnya. Lagipula toko-toko mulai tutup, kalaupun aku mendapatkan uangnya, sudah terlambat untuk membeli sesuatu. Langkahku gontai, aku malu jika pulang tak membawa apa-apa. Aku menyesal, rupanya kesibukan dan sifat egoisku yang selama ini menutupi semua perhatian dan cinta yang diberikannya, hingga tak sekalipun aku membalasnya. Sambil berjalan, lalu terbetik sebuah ide kecil dibenakku …

Aku pulang, kudapati rumahku sudah sepi, istri dan kedua anakku sudah terlelap. Aku tak ingin membangunkan mereka. Belum juga mataku merapat karena masih membayangkan betapa menyesalnya aku yang telah mengabaikan perhatian dan kasih sayangnya selama ini, bahkan tak sepatah kata ‘terima kasih’ pun aku ucapkan untuk semua cintanya itu. Satu jam kemudian, istriku terbangun untuk menunaikan sholat malamnya. Biasanya ia membangunkan aku (atau sebaliknya jika aku bangun terlebih dulu) untuk sholat bersama. Namun ia tak segera, karena kuyakin matanya langsung menatap setangkai bunga mawar merah yang kuletakkan disamping bantal tidurnya. Sementara aku masih berpura-pura terlelap, namun mataku sesekali menangkap senyuman di bibirnya ketika ia membaca kertas kecil yang kuikatkan ditangkai bunga itu, “Maafkan abang dik, yang telah melupakan perhatian dan cinta adik. Bunga ini memang tidak akan mampu membalas semua yang telah adik berikan (*/berbagai sumber)

Jadi.......

Love
NFA

Selasa, 05 Mei 2009

Always Remember...

Tinggal hitungan hari gw bertahan di Mercusuar. Setelah hampir empat tahun gw di sini dan berusaha memberikan yang terbaik dari diri gw untuk mercusuar. Mungkin ini jalan yang Allah kasih buat Opy. Hmmm.... Suasana yang terkadang bikin hati "oughhh...: jengkel ataupun seneng"

Di sini gw banyak belajar tentang dunia yang sama sekali gw nggak tau, sama sekali gw buta akan sesuatu hal dan sama sekali gw baru menemukan pelajaran yang 100 bahkan 200 % berbeda sama ilmu yang gw dapet pas kuliah dulu... Alhamdulillah 2009 ini gw udah bisa melepaskan semua yang udah gw punya... Sebenernya inginnya dari dulu, tapi belum ada kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik... Tapi sekarang sudah saatnya untuk memilih dan memutuskan demi kehidupan gw. (Ada atau tidak kesempatan bagi gw, itu kembali lagi ke takdir Ilahi lebih tidak tertekan lagi, camikuw tidak pernah melarang untuk working! Hwehehehe... Senangnya. Dasarr!). Udahlah cukup. Gw capee dan nggak pengen lagi seperti kalong... (hehehehe.... nggak mau lagi ah saingan sama kelelawar... Hiiiii seyeemmm....)...

Ya intinya sekarang, gw SIAP n KUDU berani melangkah demi cita cita yang lain... Gw yakin pasti Bisa!!! Temen-temen lt. 4 semuaaaa, Good Bye... Maafin kesalahan gw yaa n tinggal tunggu tanggal perpisahann kita... (euuu setiap perpisahan pasti menyedihkan, gw nggak mau merasakannya lagi... TAPIII demi meraih CITA dan CINTA why not?!) Yang gw suka di Mercusuar hanya kebersamaan bareng temen-temen gw ajah (ngerumpi bareng, makan bareng, nonton bareng dll deh yang menyenangkan...) Mereka yang bikin gw bertahan sampe hari ini... Tanpa mereka gw nggak mungkin kuat menerima tekanan yang bagi gw "wowww.... Gila! Hanya orang-orang gila yang sanggup bertahan... Wakakakakaka....(whaaaat, berarti gw termasuk orang gila dunnn... Ohhh Noo!). Dududu... gw pasti merindukan saat2 seperti itu yaaa ^_^

Hoaaaammmmm........ Hoammmmmmm.... Hooooammmmm.... Gw ngantukkk bubu dulu yaaaa...

Love

NFA

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana...


"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

"Selamat ulang tahun ya De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya.

Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.

Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... (*/berbagai sumber)


(Ceritanya bikin hati gw gimanaaa gituh... ^.^)

Love
NFA

Minggu, 03 Mei 2009

Ehmmmm.....

Hidup adalah pilihan. Hidup bersama dia adalah pilihan gw sejak awal dia menyatakan cinta kepada gw. Kenapa gw bisa sebegitu yakinnya akan dia... Gw yakin dia bisa membuat gw bahagia. Gw juga yakin Allah akan memberikan setiap rahmat dan hidayahnya sama kita berdua karena niat kita melangkah ke arah yang diridhoi-Mu... Gw tahu apa risikonya, karena gw sudah mendengar pengalaman sebelum-sebelumnya. Tapi gw nggak takut. Gw yakin akan ada Allah yang selalu menolongku dan kita dalam setiap keadaan....

Gw kenal dia memang dari dulu sejak gw tau dia belum siapa-siapa dan alhamdulillah sampai saat ini masih diberikan rezeki yang cukup untuk menafkahi dua kepala, kata dia... Tapi kenapa dia masih ragu n nggak percaya klo gw beneran juga sayang sama dia.... Dia selalu nggak yakin sama gw. Padahal, gw tidak mempermasalahkan semuanya... Bokap gw pernah bilang... "Teh, jangan silau oleh harta, jabatan, lelaki tampan. Semua itu hanya godaan. Cari yang iman islamnya nggak hanya KTP, bener2 sayang, pekerja keras dan bertanggung jawab. Itu saja cukup."

Sampai saat ini siy dan mudah-mudahan untuk selamanya dia bisa jadi imam buat gw, jadi pelindung gw setiap saat... Gw tahu ketika kita memutuskan untuk naik tingkat ke jenjang berikutnya cobaan selaluuuu ajah ada... Entah itu dari belakang, depan, kanan, kiri, atas, bawahh... Gw sama camikuw ajah udah satu minggu ini salahpahammmm mulu... Nggak konek-konek.... Emosiiii dua-duanya juga tinggi... Duhhhh pusianggg deh gw. Setiap jalan atau pulangnya selalu diwarnai "marahan" gw capeeee berantem mulu...Gw bahkan hampir mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak kita ucapkan... satu kata yang bisa memporakporandakan kehidupan gw. Klo kata camikuw itu adalah satu kata yang sangat haram diucapkan (ciehhh harammm booo...)

Jujur, gw kadang orangnya emosiann dan gampang panikan terhadap sesuatu hal. Kalo mau A ya harus A, Nggak bisa berubah jadi B. Itu jeleknya gw dulu, tapi alhamdulilah gw udah bisa klo nggak bisa A yaa B juga boten nopo-nopo.... yaa kayak gitu-gitu dehh... Hufffff.... Alhamdulilahnya lagi, camikuw orangnya sabarrrr bangeddhhh... Sebelnya, klo gw lagi ngambek... ehh dianya ngediemin gw... Katanya nih "klo dibales omongan lagi kamu kaya singaa... (ihh jahat serem amat sih...) jadi mending aku diemin ajah biar reda sendiri" Nah, pas reda baru deh kita ngebahas masalah yang terjadi... halah!

Satu yang pasti : Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Tapi gimana kita bisa menerima orang yang kita cintai dengan segala kekurangannya dan melihat kelebihannya sebagai anugrah buat kita. Apa pun jalan kehidupan yang Allah kasih buat gw... Itu yang terbaik buat gw dan hidup gw... Bersyukur atas nikmat yang diberikan hingga saat ini adalah jurus ampuh untuk selalu dekat dengan-Mu....

NEW JOB

Nggak lama lagi gw bakalan resign dari Mercusuar untuk mendapatkan yang lebih baik. Gw udah bilang dan mudah-mudahan di- ACC.... Dan, Semoga Allah segera memberikan pengganti new job yang baru... Amin...

Last, Opy.......... Caioooooooo dapetinnnn new job!!!! SEMANGADDDHHH....


Love
NFA